Warga Resah dengan Aktivitas Mahasiswa Papua di NTT yang Dinilai Tak Pro NKRI

Jumat, 02 Juli 2021 10:57 Admin Web Dibaca 1688x
Warga Resah dengan Aktivitas Mahasiswa Papua di NTT yang Dinilai Tak Pro NKRI
Mahasiswa Papua di Kota Kupang, NTT/Foto: istimewa
SHARE THIS:

Nasional- Warga Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resah dengan aktivitas mahasiswa Papua baru-baru ini. Pasalnya, gerak-gerik mereka dinilai tidak pro terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kamis, 1 Juli 2021, mereka yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua Kota Kupang  dan Pembebasan Kota Kupang menggelar nonton bareng (Nobar) dan diskusi publik dalam rangka memperingati 50 tahun proklamasi kemerdekaan Papua Barat dengan pemantik  Mikel Mirip dan dimoderatori oleh Gomes.

Menanggapi hal tersebut, netizen di Kota Kupang turut mengomentari aktivitas mereka yang telah beredar luas di sosial dan media, yakni di grup facebook Viktor Lerik Bebas Bicara.

"Sejak kapan Papua Merdeka? Ini anak2 mahasiswa yang kuliah sonde (tidak-red) jelas dong ni kuliah su pake uang negara  tapi masih mau teriak sembarang," tulis akun Natan Manuain.

Natan meminta aparat Polresta Kupang dan Jatanras Dikrimsus Polda NTT untuk menindak aktivitas mereka. Sebab, tulis dia, kegiatan mahasiswa itu sangat meresahkan," katanya.

Sementara itu, Jose Jaya mengomentari postingan itu dengan mengirim sejumlah link berita nasional (media kompas dan pena Timor)  tentang jenazah anggota TNI asal NTT, korban kebiadaban teroris di Papua.

"Sudah lihat jahatnya kelompok teroris OPM? Ini mahasiswa di Kota Kupang malah dukung OPM," ungkap akun Jose Jaya.

Selanjutnya, Karina Konti menyebut mahasiswa itu berwatak teroris. Ia menanyakan dimana peran pihak keamanan sampai ada mahasiswa berwatak teroris itu dibiarkan," jelasnya di kolom komentar.

Berikut pernyataan sikap Aliansi Mahasiswa Papua Kota Kupang dan Pembebasan Kolektif Kota Kupang diterima media ini yang dinilai tidak pro terhadap kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI):

Dengan melihat catatan sejarah rakyat dan  bangsa Papua Barat yang terus berjuang hingga saat ini meskipun Viktor Yeimo, Roland Levy, Kevin Molama dan berbagai tahanan politik masih di bawah kuasa kolonial Indonesia, untuk itu bertepatan dengan peringatan Hari Proklamasi ke- 50 tahun, maka kami Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Pembebasan KK Kupang NTT menuntut :

1. Negara Republik Indonesia harus mengakui bahwa TPN-PB/ TPN-OPM adalah pejuang Kemerdekaan Papua, bukan Kelompok atau pelaku kriminal nersenjata, organisasi teroris seperti yang selalu diberitakan.

2. Segera tarik militer (TNI-POLRI) organik dan non-organik dari seluruh tanah air Bangsa Papua Barat.

3. Segera hentikan dan tutup seluruh aktivitas eksploitasi sumber daya alam rakyat Papua oleh perusahan-perusahan multinasional company (MNC) milik negara-negara imperialis, seperti; PT.Freeport, BP-LNG Tangguh, Medco, Corindo dan lain-lain dari seluruh tanah Papua Barat.

4. Segera buka seluas-luasnya akses jurnalis lokal, nasional dan internasional ke tanah Papua.

5.  Segera berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi bangsa Papua Barat.

6. Bebaskan Victor Yeimo, Roland Levi, Kelvin Molamadan seluruh tahanan politik bangsa West Papua.

7. Tolak otsus jilid II, tolak otonomi daerah baru di tanah Papua Barat.

Demikian pernyataan sikap ini, kami menyerukan kepada seluruh rakyat bangsa Papua Barat agar segera bersatu dan berjuang merebut cita-cita sejati yaitu pembebasan manusia dan tanah air Papua Barat dari cengkeraman kolonial Indonesia. Atas perhatian dan dukungan seluruh Rakyat Papua Barat, kami ucapkan terimakasih. Salam Pembebasan Nasional Papua Barat.

Hingga berita ini diterbitkan, AMP dan Pembebasan belum berhasil dimintai keterangannya.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan memajukan dan mensejahterakan seluruh rakyat di Provinsi Papua merupakan amanat konstitusi yang harus diwujudkan melalui usaha bersama.

Namun, tidak mudah membangun Papua jika intensitas dan eskalasi aksi kekerasan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang kerap melakukan aksi-aksi teror terhadap rakyat Papua, tidak kunjung usai.

“Negara harus hadir untuk memastikan bahwa hak rakyat Papua untuk menikmati hasil pembangunan, tidak terberangus oleh ancaman sekelompok orang yang menjadikan aksi kekerasan dan teror sebagai panglima," katanya.

Kehadiran personil TNI dan Polri di Papua dalam rangka menumpas KKB guna mewujudkan cipta kondisi untuk memberikan perlindungan keamanan bagi rakyat Papua,” ujar Bamsoet usai bertemu Danjen Kopassus Mayjen (TNI) Mohamad Hasan di Jakarta, Kamis (3/6/2021) dikutip dari pontas.id. (Redaksi).