BERI PERHATIAN KHUSUS PETERNAKAN DI NTT ANSY LEMA PERJUANGKAN 75 EKOR KAMBING DAN 60 EKOR SAPI SELAMA TAHUN 2020

Jumat, 08 Januari 2021 10:01 Admin Web Dibaca 73x
BERI PERHATIAN KHUSUS  PETERNAKAN DI NTT ANSY LEMA PERJUANGKAN 75 EKOR KAMBING DAN 60 EKOR SAPI SELAMA TAHUN 2020
Bibit Sapi yang disalurkan untuk Kelompok Ternak di Provinsi NTT yang diperjuangkan oleh Yohanis Fransiskus Lema, S IP., MSi
SHARE THIS:

JAKARTA, BapaKita.id – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si atau Ansy Lema berhasil memperjuangkan bantuan 75 ekor kambing dan 60 ekor sapi untuk mendukung kemajuan peternakan rakyat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama Tahun 2020. Bantuan berupa bibit kambing dan sapi ini merupakan hasil kerja sama Ansy dengan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan). 


“Sejak berada di Komisi IV DPR RI yang juga membidangi peternakan, saya sudah mendorong Kementan untuk memberikan bantuan ternak kepada peternak di NTT. Bantuan bibit kambing dan sapi diberikan untuk menggairahkan peternakan rakyat, meningkatkan populasi ternak yang berujung peningkatan produksi ternak masyarakat, serta meningkatkan skala usaha rumah tangga peternak di NTT,” ujar Ansy di Jakarta, Kamis (7/1/2021). 


Adapun rincian daerah yang menerima bantuan ternak adalah Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dua kelompok peternak dari setiap kabupaten tersebut masing-masing memperoleh 25 ekor kambing dan 20 ekor sapi. 


“Semua bantuan ini berdasarkan usulan Calon Penerima Calon Lokasi (CPCL) dari kelompok sehingga bantuan ini tepat sasar dan sampai ke tangan penerima,” kata Ansy. 


Ansy mengaku memberikan perhatian serius terhadap pengembangan sektor peternakan di NTT. NTT sempat mengalami masa keemasan sebagai salah satu lumbung ternak nasional pada beberapa dekade lampau. Maka, sejak berada di Komisi IV DPR RI, dirinya sudah mendorong Kementan untuk mengembalikan NTT sebagai gudang ternak sapi nasional. NTT memiliki potensi besar untuk berkontribusi secara signifikan untuk mencapai target swasembada daging sapi nasional yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. 


“Saat ini Indonesia masih mengalami defisit sapi. Pada 25 Juni 2020, Indonesia sudah mengimpor 215.501 ekor atau 48.296 ton. Artinya, potensi pasar peternakan sapi dan kambing terbuka lebar. Momentum ini harus menjadi titik picu untuk mengembangkan peternakan sapi di NTT,” lanjut Ansy. 


Ansy berpesan agar kelompok penerima bantuan ternak rajin merawat, secara berkala melakukan pengawasan kesehatan, dan memberikan pakan yang cukup agar ternak kambing dan sapi kuat, sehat, dan cepat bertumbuh. Karena itu pemerintah perlu melakukan pendampingan kolektif tentang pemeliharaan, pemberian pakan dan manajemen tata niaga peternakan kambing dan sapi. Tak kalah penting adalah memastikan manajemen tata niaga yang menguntungkan para peternak, agar tidak lagi menjadi bulan-bulanan tengkulak yang membeli dengan harga sangat murah. 


“Pemerintah perlu meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) peternak, dengan mengadakan pelatihan keterampilan mulai dari pelatihan pakan ternak, produksi termasuk meningkatkan inseminasi untuk memperbaiki genetik sapi. Para peternak harus didorong untuk menanam pakan secara mandiri, untuk mengantisipasi kekurangan pakan sapi dan kambing pada musim kemarau,” papar Ansy. 


ASF 


Mantan dosen itu juga berkomitmen untuk terus mengawal kerja Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) serta Badan Karantina Kementan (Barantan) untuk mencegah penyebaran Virus Flu Babi Afrika (ASF) yang melanda NTT. Dirinya mendengar hingga akhir tahun 2020, kasus ASF yang menyebabkan ribuan babi mati  telah meluas hingga ke daratan Flores. Maka ia terus mendesak Ditjen PKH Kementan untuk mempercepat penemuan vaksin ASF.  Selain itu, Kementan harus memberi bantuan bibit babi para peternak babi di NTT agar cepat pulih dari ASF yang menghancurkan usaha peternakan mereka. 


“Selama tahun 2020, saya sering mendesak Kementan untuk bekerja sigap mencegah penyebaran virus dengan memperketat perbatasan dan melokalisasi penyebaran ASF. Pengawalan untuk kasus ASF akan kita teruskan pada tahun 2021. Terutama saya akan mendesak Ditjen PKH Kementan  mempercepat penemuan vaksin ASF agar memulihkan kepercayaan diri peternak. Serentak itu, Kementan dapat memberikan bantuan bibit babi kepada peternak untuk bangkit dan berusaha lagi,” tutupnya.* BapaKita.id