Pembabatan Pandan Desa Pasir Putih Mingar Masuk Kategori Kejahatan

Senin, 13 Juli 2020 14:29 Dibaca 298x
Pembabatan Pandan Desa Pasir Putih Mingar Masuk Kategori Kejahatan
Dispalay tulisan Mingar yang terlihat apa adanya dipasang di lokasi wisata pantai pasir putih Mingar/BapaKita.
SHARE THIS:

Mingar, BapaKita.id - Tidak hanya pohon Mangrove yang dapat mencegah abrasi, tanaman pandan laut atau Pandanus tectorius juga berfungsi sebagai tanaman penjaga pantai. Pandan laut merupakan tanaman berdaun hijau abadi (evergreen) yang hidup di pinggir pantai.

Pandan laut berfungsi sebagai pemecah ombak, pencegah erosi dan abrasi serta menjadi tempat bertelurnya penyu. Jika populasi tumbuhan ini punah karna kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia maka dampaknya akan terasa sekali oleh manusia itu sendiri.

Bagaimana mungkin pembabatan mengunakan alat berat yang terjadi di Desa Pasir Putih Mingar yang dilakukan oleh pemerintah untuk membangun fasiitas publik berupa lapangan volley pantai tidak mengindahkan aspek keselamatan lingkungan, habitat hutan dan jenis tanaman yang dilindungi, ekosistem laut dan perairan masuk kategori kejahatan hal itu diungkapkan Yohanes Vianey K. Burin, SH selaku Ketua Partai Gerindra Kabupaten Lembata saat dijumapi media ini Minggu 12 Juli 2020.

“Ini sudah sangat jelas melanggar Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Undang Undang RI Nomor 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, Undang Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya ini sudah sangat jelas sesuai dengan bukti yang ada dilapangan atau lokasi ini tegas Vian Burin pengaca senior Lembata tersebut sambil menunjuk bukti pembabatan pohon pandan laut dan juga indikasi pencurian pasir laut.

Saat dijumpai dilokasi penggusuran pandan di pantai mingar Desa Pasir Putih Kecamatan Nagawutun Vian Burin yang juga tokoh pejuang otonomi Lembata 1999 menjelaskan adanya dugaan tiga jenis kejahatan yakni pengrusakan pandan dan ekosistemnya, penyerobotan tanah misi yang dimiliki oleh gereja persis dibelakang sekolah SDK Mingar dan pencurian pasir  inikan jelas - jelas kategori kejahatan yang secara sadar sudah dilakukan oleh pemerintah, ujar Vian Burin

Lembata Milik Seluruh Rakyat

Anggota Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation/JPIC) Provinsi SVD Ende, Pater Steph Tupeng Witin SVD yang hadir di lokasi dan terlibat mengadvokasi rakyat Mingar, mengatakan bahwa ratusan pohon pandan yang dibabat habis di pinggir Pantai Watan Raja Desa Pasir Putih Mingar Kecamatan Nagawutung atas perintah penguasah telah merusak lingkungan pantai yang sangat terkenal itu.


Tindakan pembabatan hutan pandan ini patut diduga menyimpan niat jahat untuk menghancurkan lingkungan. Pernyataan bahwa pembabatan pohon pandan itu merupakan penataan adalah omong kosong besar dan pernyataan itu patut diduga adalah hasil mimpi bohong besar dari kekuasaan yang sedang kehilangan nurani.

Pohon pandan yang berusia ratusan tahun adalah aset lingkungan yang menjadi ciri kas identitas pantai pasir putih. Pandan juga memiliki sejarah panjang sebagai sumber pangan lokal yang menyelamatkan hidup warga Mingar saat paceklik.

“Kita mengutuk keras tindakan perusakan lingkungan ini yang bisa kita kategorikan sebagai kejahatan lingkungan yang luar biasa. Kekuasaan di Lembata patut diduga anti keutuhan lingkungan dan menjadi medium merusakkan kelestarian lingkungan. Kita harap agar peristiwa ini tidak menimbulkan konflik meluas di tengah masyarakat. Pohonp pandan yang dijaga ratusan tahun dibabat dalam sekejap oleh mesin kekuasaan Lembata yang diduga rakus dengan kesenangan pribadi saja. Volley pantai itu produk kesenangan kekuasaan yang hanya menjadikan masa kekuasaan sebagai saat rekreasi murahan tanpa pernah memperhitungkan dampak buruk bagi rakyat. Rakyat Mingar telah mengalami bencana gelombang laut mencapai perkampungan pada tahun 2003 yang mengancam keberadaan gedung SDK Mingar yang berjarak 70-an meter dari pinggir laut.”

Jurnalis dan penulis ini mengharapkan agar pemerintah Lembata menghentikan upaya merusak lingkungan dan lebih membangun infrastruktur dan kebutuhan urgen yang lebih mendesak.

Apalagi niat merusak lingkungan hanya untuk sebuah lapangan volley pantai. Rencana itu pun tidak pernah disosialisasikan kepada warga. Bahkan pasir putih pun dicuri oleh pengusaha yang dekat dengan kekuasaan yang dalam catatan lingkungan hidup Lembata merusak hutan bakau (mangrove) di Merdeka, Kecamatan Lebatukan tahun 2019.


Rangkain kegiatan kunjungan JPIC (Justice, Peace, and Integration of Creation) Provinsi Ende juga diadakan misa bersama umat di gereja Paroki Mingar pada hari Minggu 12 Juli 2020 serta pendampingan kelompok muda peduli lingkungan pariwisata berbasis ekologis dan partisipatif masyarakat.

Turut  ikut dalam rombongan kunjungan dan melihat langsung koondisi langsung lokasi pembabatan rombongan yang ikut diantara lain Ketua DPD Partai Amanat Naional Kabupaten Lembata Fransiskus Limawai Koban, Ketua DPD Partai Kebangkitan Bangsa, anggota JPIC Provinsi Ende Stef Tupen Witin SVD Forum PRB (Peduli Resiko Bencana) Mikhael Alexander Raring, anggota bidang hukum Wahli Indonesia Provinsi NTT Dominikus Karang, dan Komunitas Peduli Lingkungan Hewan, Hutan dan Tumbuhan serta Keanekaragaman Hayati. BapaKita