Gempita Budaya Di Tanah Para Dewa

Minggu, 01 Januari 2017 13:20 Superadmin Dibaca 242x
Gempita Budaya Di Tanah Para Dewa
SHARE THIS:

Gempita Budaya di Tanah Para Dewa

Gadis belia asal Tanah Para Dewa. Kehadiran mereka bak bidadari mungil di pembukaan Pesta Kesenian Bali pada 11 Juni 2016. (Valentino Luis)

Untuk ke-38 kalinya Pesta Kesenian Bali (PKB) kembali digelar. Dimulai tanggal 11 Juni hingga 9 Juli 2016. Mengangkat tema “Karang Akar” atau Mencintai Tanah Air, PKB kali ini terasa istimewa sebab Bali kembali mendapat penghargaan dari UNESCO atas masuknya tarian Bali sebagai Warisan Dunia (World Heritage) – kategori non benda.Pembukaan PKB ditandai dengan pawai budaya dari sembilan kabupaten se-propinsi Bali, juga diikuti oleh tim dari luar Bali, seperti NTT. Tidak itu saja, pawai yang dimulai jam 15.00 sore di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar ini disemaraki pula dengan kehadiran kontingen asal India, Timor Leste, dan Perancis lewat suguhan busana adat, musik, serta tarian boneka raksasa. Khusus tarian boneka raksasa dari Perancis, dikenal sebagai  Les Grandes Personnes. Presiden Joko Widodo yang hadir bersama istri, melakukan pemukulan Kul-Kul sebagai peresmian event ini.

Pemukulan kul-kul oleh Menteri

Pemukulan kul-kul oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, yang menandai peresmian Pesta Kesenian Bali, Sabtu, 11 Juni 2016. Pesta budaya ini digelar hingga 9 Juli. Pagelaran budaya kali ini mengambil tajuk "Karang Akar" yang bermakna mencintai Tanah Air. (Valentino Luis)

Usai pawai, dilanjutkan dengan pembukaan pentas PKB di Art Center Denpasar oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan, Anies Baswedan, mewakili Presiden Indonesia, Joko Widodo.Dalam sambutannya di hadapan ribuan warga yang memadati Amphitheater Ardha Candra, Anies Baswedan mengungkapkan bahwa mencintai Tanah Air adalah tema yang sangat relevan yang menyadarkan kita akan asal-usul, refleksi bagi masyarakat Bali akan perjalanan sejarah yang telah ditempuh pulau ini untuk menjadi Bali yang dikenal luas oleh dunia dan Bali yang menjadi satu kesatuan Indonesia.

Pawai budaya dalam pembukaan

Pawai budaya dalam pembukaan Pesta Kesenian Bali tidak hanya dihadiri seniman-seniman tari asal Tanah Para Dewa dan Provinsi Nusa Tenggara Timur, tetapi juga seniman asal India, Timor-Leste, dan Prancis. tampak para seniman Prancis memainkan boneka raksasa. (Valentino Luis)

Piagam UNESCO World Heritage diserahkan Anies Baswedan kepada Gubernur Made Mangku Pastika, mewakili masyarakat Bali. Anies menambahkan bahwa lestarinya keunikan budaya Bali merupakan hal yang istimewa dan bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di masa globalisasi seperti sekarang ini. Adapun tiga macam tarian Bali yang memperoleh pengakuan UNESCO yakni jenis  tari sakral (Wali) meliputi Rejang, Sanghyang Dedari, dan Baris Upacara. Kemudian tari semi sakral (Bebali), seperti Topeng Sidhakarya, Dramatari Gambuh, dan Dramatari Wayang Wong. Terakhir, tarian pertunjukan (Balih-balihan), yang diwakili oleh Legong Kraton, Joged Bumbung dan Barong.

Semoga Teladan Bali dalam menjaga jati diri budayanya menginspirasi kita untuk lebih mencinta dan melestarikan pusaka budaya Indonesia.

Sejatinya, penetapan sembilan tarian Bali yang menjadi warisan dunia itu dilakukan dalam sidang UNESCO di Windhouk, Namibia, Afrika, pada awal Desember 2015. Sembilan tarian Bali tersebut kerap dipentaskan sebagai sarana upacara sakral, iringan suatu upacara, atau pentas hiburan masyarakat. “Ajang seni dan budaya seperti PKB ini adalah ajang pembangunan karakter bangsa. Bali disukai oleh dunia karena kemampuan menjaga jati diri, dan kemampuan menjaga jati diri adalah bentuk cinta Tanah Air. Di Bali kesenian bukanlah soal penghidupan tapi kesenian adalah kehidupan”, kata Anies yang malam itu mengenakan pakaian adat Bali.