HIPMI Minta Kasus Kredit Fiktif Bank NTT Tidak Boleh Memperhambat Dunia Usaha

Jumat, 07 Februari 2020 15:37 Admin Web Dibaca 440x
HIPMI Minta Kasus Kredit Fiktif Bank NTT Tidak Boleh Memperhambat Dunia Usaha
Ketua Umum BPP HIPMI Mardani H. Maming beserta jajaran Pengurus Pusat Sekjen dan Ketua OKK BPP HIPMI Boy Sangaji foto bersama usia pemantapan Peraturan Organisasi baru baru ini di Kantor Pusat HIPMI di Jakarta/bapakita.id
SHARE THIS:

Jakarta, BapaKita.id – Dunia usaha perlu mendapatkan kenyamanan dalam berinvestasi sehingga roda perkonomian berjalan sebagaimana mestinya untuk keberlangsungan hidup bangsa ini.

Kasus kerdit fiktif yang melibatkan empat pegawai Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), terkait kredit tanpa agunan yang merugikan negara sebesar Rp 4,1 miliar.

Menurut Yohanes Agustino Masteriano Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Kelembagaan BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di hubungi media ini mengatakan ” Kasus kredit fiktif yang melibatkan pegawai bank NTT tidak boleh menghambat pertumbuhan jumlah pengusaha muda di NTT.

Opini tidak boleh diciptakan untuk menakut nakuti pengusaha muda untuk berhubungan dengan bank dalam urusan modal usaha.

Dalam kasus korupsi ini kita sepakat untuk mendorong aparat penegak hukum bekerja sebaik-baiknya.

Justru kita meminta semua pihak kususnya dunia perbankan untuk membantu dan mempermudah para pelaku usaha sampai ke pelosok – pelosok desa di Provinsi NTT guna mempermudah akses pelaku usaha dalam menumbukan roda perekonomian di Provinsi NTT.

 

Benahi mental karyawan Bank NTT dalam pelayanan kredit dan bimbing pengusaha muda kita agar berkembang dan naik kelas menjadi pengusaha nasional. Ini tanggungjawab kita Bersama.

Untuk di ketahui kasus ini dalam penanganan pihak Kejaksan Negeri Kupang Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Kota Kupang, Januaris Boli Tobing mengatakan, keempat tersangka yang ditahan itu adalah, Bonefasius Ola Masan, Yohana Bai Lao, Johan Gebu dan Yohanes Agus alias Tejo.

"Tiganya ditahan di rutan sementara tersangka wanita ditahan di lapas wanita selama 20 hari ke depan," ujarnya kepada sejumlah wartawan, , Kamis (6/2).

Enam tersangka itu terdiri dari empat pegawai Bank NTT dan dua dari pihak swasta, yakni Linda Liudianto dan Hadmen Puri. Keduanya saat ini sedang menjalani hukuman di Lapas Kupang. Kemungkinan akan ada penambahan tersangka. Untuk sementara enam tersangka, jika dalam perkembangan ditemukan ada keterlibatan pihak lain, maka bisa ada penambahan," katanya.

Menurutnya, dalam proses pemeriksaan, salah satu tersangka atas nama Yohanes Agus alias Tejo, terkesan tidak kooperatif. Sehingga walau beralasan sakit, namun jaksa menjemput paksa untuk ditahan.

"Alasan sakit tetapi tidak ada surat keterangan dari dokter. Setelah diperiksa dokter, yang bersangkutan dinyatakan sehat, sehingga kita tahan," tandasnya.

Keempat tersangka dijerat pasal 2 ayat 1 UU No 20 Tahun 2001 Jo pasal 18 tentang perubahan atas UU No 32 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi subsider pasal 3 UU Tipikor. (Malcom/BapaKita.id)