Menakar Kepemimpinan Dalam Kecerdasan Emosi

Minggu, 01 Januari 2017 12:29 Superadmin Dibaca 253x
Menakar Kepemimpinan Dalam Kecerdasan Emosi
Tulisan ini terinpirasi dari Tulisan : Edy Suharsono, kompasiana Kesetabilan emosi sebagai indikator Kepemimpinan
SHARE THIS:

Panggung politik Kabupaten Lembata di tahun 2017 mendatang sudah mulai bergetar. Di beberapa media cetak maupun on line, hiruk pikuk berita tentang perhelatan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah lima tahunan itu, sudah berasa hingga memantik perhatian banyak orang. Nama-nama kandidat mulai bermunculan. Para simpatisan mulai berkoar-koar, menyebut nama, memajang foto, bahkan mengganyang kekuatan untuk memperoleh dukungan bagi bakal calon yang nantinya akan diusung sebagai pengantin dalam “pesta nikah” demokrasi itu. Lembata sebagai salah satu kabupaten/kota di NTT yang akan menyelenggarakan Pilkada di tahun 2017 mendatang, kini mulai terasa tensi politiknya. Banyak figur mulai muncul. Ada wajah lama, ada pula pendatang baru. Semua mereka tentu memiliki kapasitas yang layak dan mencukupi untuk menjadi pemimpin Lembata ke depan, jika nantinya dipercaya secara kuantitatif berdasarkan pehitungan suara di KPU nantinya.

Ada yang begitu dielu-elukan sebagai pemimpin yang dirindukan sebagian masyarakat. Ada pula yang begitu dicemo’oh oleh sebagian yang lain, ketika nama mereka disebutkan di media-media. Itu tentu biasa terjadi. Mengharapkan seorang calon pemimpin yang benar-benar bisa diterima oleh semua kalangan adalah hal yang mungkin sulit terwujud. Bagaimana mungkin, seorang calon memimpin, harus tampak menjadi begitu “ideal” di dalam puluhan bahkan ratusan ribu kepala? Sungguh, hal yang berat. Bahkan seorang ibu/bapak saja dalam rumah tangga, belum tentu bisa diterima dengan baik oleh anak-anaknya sendiri, sekalipun mereka adalah orang tua kandung dari anak-anak yang dilahirkannya. Tetapi mencari figur pemimpin ideal, bukanlah hal yang rumit. Sekali bertemu, sekali bersuara, dan sekali memaparkan visi/misi, mungkin saja orang bisa langsung jatuh cinta, dan menentukan pilihan. Soal ke depan, itu urusan nanti. Tiga kali sudah, masyarakat Lembata menyelenggarakan pesta demokrasi. Selama itu juga, masyarakat Lembata merasakan suka duka bersama seorang pemimpin. Senang atau tidak senang, suka atau tidak, waktu sudah berlalu. pilihan masa lalu sudah ditentukan dan telah terjadi. Pilihan akan datang, segera ditentukan, dan yang nantinya bakan menentukan siapa yang paling pantas secara kualitas dan kuantitatif memimpin Lembata lima tahun ke depan.

Tetapi, patut untuk kita renungkan, selama tiga kali ini, apakah kita telah menemukan “sosok” pemimpin ideal kita? atau setidaknya kita telah memiliki suatu pemaknaan yang tepat, untuk mengikhlaskan perahu Lewotana ini dinahkodai oleh seorang pemimpin yang ideal? Mari kita diskusikan, dan mencari solusinya, untuk kemudian, bersama-sama kita melakukan suatu pencerahan praktis kepada diri kita sendiri, kepada orang tua, kakak dan adik juga kepada sanak keluarga kita yang terdekat, agar kelak, di tahun depan, semua kita mampu memilih sosok pemimpin yang ideal untuk Lewotanah, tanah Lembata ini. Mencari pemimpin ideal, kita tidak membutuhkan seseorang yang pandai dalam memoles penampilan fisik yang menawan, ia tidak harus tampan/cantik secara rupa. Ia juga tidak melakukan kerja pencitraan, masuk keluar kampung, berbuat “seolah-olah” dia tahu persis apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, memberi sumbangan berlagak macam konglomerat atau juga dermawan. Pemimpin semacam ini, ibarat tukang kebun musiman, yang hanya datang setiap lima kali musim kemarau, kemudian pergi tanpa bekas, ketika gagal memanen hasil.

Yang kita butuhkan ialah sosok seorang yang sederhana, yang menampilkan dirinya apa adanya melalui pribadi yang memiliki integritas dan karakter dalam menampilkan kualitas komitmen dan konsistensi kerja intelektual, kognitif, afektif (emosional), perilaku, interaksi sosial serta daya kreatif dalam mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang bermoral, adil dan sejahtera. Dia bukanlah pribadi yang sibuk mencari alasan, dan membentengi diri dengan rasionalisasi atas apa yang terjadi dalam rapor hidupnya, atau di masa kepemimpinannya. Ia lebih memancarkan aura keteduhan, dengan menampilkan diri sebagai seorang pengayom yang melindungi, melayani dan terus berbuat sesuatu dengan lebih baik melebihi orang lain, demi kepentingan banyak orang, dan bukannya mencari pembenaran diri atas suatu kesulitan dan kegagalan yang berdampak menimbulkan kontroversi bahkan kekalahan. Pemimpin ideal tidak bertindak gegabah. Ia tidak menghukum dan memenjarakan orang-orang yang dipimpinnya yang bersuara secara lantang dan keras tentang kebaikan dan yang mencari kebenaran, tentang menuntut keadilan dan kesejahteraan atas luka-luka dan dan penderitaan yang mereka rasakan.

Pemimpin ideal, tidak berusaha menutupi kesalahannya dengan melemparkan kesalahan itu pada orang lain. Ia tidak bertindak secara licik untuk membebaskan diri dari himpitan kaum demonstran, apalagi bersembunyi di dalam zona yang paling nyaman bagi dirinya, sementara masih banyak rakyatnya hidup penuh kesulitan, bahkan untuk membeli beras sekilo pun mereka harus menjual harga diri untuk dihinakan dan diperbudak lantaran urusan perut dan usaha pencapaian kebahagiaan jauh dari urusan nasib dan kepatutan hidup. Sebab pemimpin semacam ini, ialah mereka-mereka yang secara disadari atau tidak, memilih untuk membutakan atau dibutakan mata hatinya, atau miskin secara kecerdasan emosi. Ia membangun sebuah kubangan lalu menceburkan diri sendiri tenggelam di dasar berlumpur menjelmah patung-patung tanpa jiwa dan tanpa makna, yang membuat dirinya nampak begitu kerdil secara kualitas intelektual, rendah secara kecerdasan emosi, buruk dalam kemampuan sosial, dan barangkali, juga bejat secara spiritual.  

Pemimpin ideal, ialah dia yang mampu mengekspresikan kualitas rasa kejujuran, bersikap konsisten antara kehidupan pribadi dan kehidupan publik. Ia sanggup membuat dirinya begitu “menyala” dalam pidato-pidato publik, dan sekaligus begitu bersinar dalam setiap aksi-aksi publiknya. Ia tidak membangun ruang/skat kebingungan bagi masyarakat. Ia mampu hadir dalam kata-kata dan juga tindakan yang sejalan dengan visi/misi yang pernah dipropagandakan untuk memperoleh dukungan. Dan bukannya menampilkan inkonsistensi yang nantinya bakal merusak kredibilitas diri sendiri karena tindakannya gagal untuk mencerminkan kata-katanya. Ia berani menjadi sangat kritis dan anti terhadap budaya “kronisme” yang hanya memperkaya diri sendiri dan kelompok. Ia sanggup melakukan transparansi dalam urusan publik, dan bukannya sesumbar penuh janji, namun akhirnya berujung pada pemuasaan kebutuhan dan keinginan diri sendiri. Pemimpin ideal, mampu bertindak seperti air yang merembes diantara batu-batu cadas yang keras. Ia mampu menyerap dan menyapu bawa aspirasi tentang keadilan, mengembangbiakan ide/gagasan sebagai bibit/buah yang berlimpah dari hasil kerja yang produktif di ladang-ladang milik petani-petani kecil yang ia sebut masyarakat. Ia mampu menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri pada konstituennya untuk terus memproduksi, menanamkan dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai moral, nilai agama, dan etika sosial secara personal dengan santun ketika berhadapan dengan ruang-ruang publik. Ia mampu mencari jalan lain menuju kota roma, bahkan mempersatukan ide-ide yang berbeda atau bertentangan dengan mengurangi intensitas kewenangan dan kekuasaan secara represif.

Dia tidak haus akan sanjungan yang berlebihan, dan berani menolak untuk selalu menjadi yang “nomor satu” pada setiap kesempatan. Ia sanggup menahan diri dari gairah untuk bertindak secara anarki, menindas, menertawakan, melecehkan, dan acuh tak acuh terhadap kesusahan hidup banyak orang. Pemimpin ideal, ialah dia yang cerdas secara emosi. Dia yang sanggup memahami emosi diri sendiri maupun orang lain, serta mampu mengendalikan emosi sehingga mendorong keterampilannya untuk membangun relasi secara emosi yang positif dengan orang lain serta beradaptasi dengan tuntutan lingkungan atau masyarakat konstituennya. Ia mampu mengekspresikan kestabilan emosi secara tepat pada siatuasi-siatuasi yang tepat, yang terpancar dengan kesungguhkan untuk membangun relasi sosial yang kuat dan berkelanjutan, terutama dimasa-masa sulit. Ia mampu menghadirkan dirinya sebagai tuan rumah dalam setiap ratapan duka cita maupun pesta suka cita, dan bukannya sebagai tamu yang dipertonton-agungkan atau dimuliakan di depan keluarga yang berduka atau yang merayakan kebahagiaan kecil.

Ia mampu hadir dengan rasa penuh percaya diri yang mencerminkan dukungan dan kegairahaan hidup dari masyarakatnya. Ia berani mengontrol emosinya secara bijaksana, dan mengekspresikan emosinya dengan cara-cara yang tepat, santun dan tidak menimbulkan kekecewaan terhadap orang lain. Ia mampu mengubah ledakan amarahnya sebagai arahan yang bijaksana, mempengaruhi orang dengan cara-cara mendengarkan pikiran/pendapat orang lain, kemudian membagikan pengalaman dan ide/gagasan sendiri untuk disatukan menjadi kekuatan kerja sama dalam hubungan atasan dan bawahan, antara pemimpin dan yang dipimpin yang kreatif, positif dan produktif. Pemimpin yang ideal, ialah dia yang memiliki komitmen pada produktifitas dan keunggulan dari yang ia kerjakan. Ia sanggup mengedepankan tanggung jawab dan akuntabilitas terhadap pelaksanaan rencana di semua organisasi dan sumber daya yang dimiliki yang tidak didelegasikan pada saat diminta pertanggungjawaban.

Ia sangggup menumbuhkan kepercayaan diri dengan mengedepankan aspek kecerdasan emosinya untuk mengambil posisi terdepan dalam mempertanggung-jawabkan semua tindakan yang terjadi dalam pelaksanaan tugasnya secara publik. Ia percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan dan keunggulan dibalik semua tindakan yang dibuat, dan bukannya memaparkan mimpi-mimpi kosong yang kering kerontang seperti bukit-bukit yang tandus, terlihat megah namun hampa dan gelap gulita tanpa makna. Ia tidak sesumbar dengan menilai diri sendiri sebagai pemimpin yang layak dan sukses secara pelaksanaan program. Ia harus berani membuat segala tindakan secara akuntabel, dan bukannya defensive ketika diuji secara beramai-ramai atas asas kemanfaatan publik, dan pengelolaan finansial.

Dan bukannya menghindari saat dituntut pertanggung jawabannya. Pemimpin yang ideal, ialah dia yang memiliki kecerdasan emosi yang baik. yang darinya masyarakat belajar tentang cara-cara memanusiakan manusia secara emosi. menghormati perbedaan, mengedepankan keselarasan untuk membangun tanah Lembata menjadi tanah air yang dibanggakan. Menjadi tanah perjanjian, yang menghidupi masyarakatnya dengan kejujuran sebagai buah berlimpah yang terberkati. Majulah wahai para pemimpin Lembata. Jadilah terang bagi masyarakat dan pengayom bagi yang lemah dan tak berdaya. Percayalah, di dalam kejujuran selalu ada rasa percaya diri untuk mempertanggungjawabkan semua tindakan yang benar. Semoga. Sekian dan terima kasih. Wasalam.