Kekerasan Terhadap Anak

Minggu, 01 Januari 2017 12:28 Superadmin Dibaca 148x
Kekerasan Terhadap Anak
SHARE THIS:

Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog

 

Penelantaran sebagai Bentuk Kekerasan pada Anak.

Oleh : Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog

Tindak kekerasan terhadap anak terus mencuat ke permukaan bagai fenomena gunung es di tengah lautan.
Kehadiran anak dalam rumah tangga yang harusnya didambakan pasangan suami istri, jutru menjadi tumbal dan tempat melampiaskan amarah, kekecewaan, putus asa, sebagai wujud ketidakmampuan orang tua menghadapi permasalahan hidup berumah tangga. Anak yang semestinya adalah makhluk mengagumkan dan layak memperoleh perlindungan, perhatian, cinta dan kasih sayang sebagai “buah cinta” orang tua, justru sering dianggap sebagai penyebab masalah, sumber bencana, dan bahkan menjadi “aib” bagi orang tua dan keluarga. Dalam kehidupan rumah tangga, tidak sedikit anak mengalami tindakan kekerasan atau kejahatan oleh orang-orang terdekatnya. Semisal dalam perbuatan yang paling sederhana, pemberian label negatif dari orang dewasa terhadap anak, seperti “dasar anak bodoh, anak nakal, anak pemalas, anak durhaka”, atau kata-kata yang bersifat membandingkan anak dengan anak lain, semisal “kamu tidak sama seperti si A yang pintar dan rajin”, atau “Si A lebih baik dari kamu”, dan sebagainya, tanpa disadari membuka peluang anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, minder dan pemalu oleh karena keseringan dikatakan seperti itu, bahkan dapat menanamkan rasa cemburu, iri hati, dendam dan permusuhan dalam diri anak terhadap anak yang dibandingkan. Sikap orang dewasa semacam ini, yang cenderung dengan dalih mendidik, mengasuh dan melindungi, justru menempatkan anak sebagai korban dari perlakuan tindakan kejahatan (abuse). Salah satu bentuk tindak kejahatan yang biasa dilakukan oleh orang dewasa (orang tua), namun kurang mendapat perhatian masyarakat adalah Neglect, yaitu tindakan penelantaran terhadap anak oleh orang dewasa yang bertanggung jawab disebabkan karena gagal untuk menyediakan keperluan atau kebutuhan dasar anak. Anak diabaikan, disia-siakan dan tidak dikehendaki dalam keluarga dengan cara tidak peduli dan dengan sengaja gagal/tidak menyediakan kebutuhan dasar anak. Sebagai bentuk tindak kejahatan, Neglect tergolong dalam beberapa bentuk, yaitu
(1) Physical neglect, berupa pembatasan mendapatkan makanan yang cukup, pakaian atau kebersihan yang layak; pembatasan mendapatkan sarana dan pelayanan kesehatan/pengobatan, gagal dalam pengawasan atau ditinggal sendirian yang mengakibatkan anak menderita fisik dan psikis, diusir dan tidak diterima/diterlantarkan.
(2) Emotional neglect, berupa kegagalan memberikan pengasuhan, dukungan emosional dan kasih sayang serta ketidakpedulian pada kegiatan anak; kekerasan domestik yang disaksikan oleh anak termasuk pembiaran menggunakan alkohol dan narkoba.
(3) Educational neglect, berupa gagal menyediakan pendidikan yang layak kepada anak baik normal maupun berkebutuhan khusus, tidak mendaftarkan anak di sekolah, dibiarkan bolos, tidak boleh mengikuti kegiatan sekolah, dan membiarkan anak putus sekolah. Neglect cenderung berdampak pada pembentukan kepribadian yang negatif dengan ciri utama anak suka berbohong, ketakutan yang berlebihan, tidak ada cinta kasih dan kepercayaan kepada orang lain, egois dan kurang peduli pada orang lain, rendah diri, serta perilaku maladaptive. Neglect juga dapat menyebabkan stress pasca trauma, kerusakan kognitif, gangguan suasana hati, penilaian diri yang negatif seperti isolasi diri, rasa dendam akud, perilaku merusak/menyakiti diri (cacat diri, bunuh diri dan mutilasi), takut menjalin hubungan hangat/akrab atau mesra dengan orang lain, kecanduan narkoba dan zat adiktif lain, personality disorder (gangguan kepribadian dan atau kepribadian ganda), keluhan psikosomatis, gangguan pola makan, gangguan belajar, bahkan dapat menyebabkan kecacatan dan atau gangguan tumbuh fisik anak, serta untuk jangka panjang, anak cenderung memperlihatkan perilaku egoistis, anti-sosial, tertutup, berperilaku sadism terhadap orang lain, suka menyiksa, dan bahkan dapat mengalami gangguan kejiwaan seperti skizofrenia. Bila anak telah dewasa, memungkinkan anak mengalami gangguan perilaku menyimpang dan atau gangguan jiwa dengan tipe psikosa atau setidaknya anak akan menjadi abuser (pedopath),  sangat mungkin akan melakukan hal yang sama pada anak-anaknya, bahkan cenderung meninggalkan keluarganya. Untuk mencegah terjadinya neglect, penting bagi orang tua, pendidik, tomas dan toga, pemerintah, aparat penegak hukum serta elemen masyarakat bekerja sama untuk mencegah dan menghindarkan anak dari tindakan penelantaran. Semua kita harus terpanggil untuk menempatkan anak sebagai “manusia baru” yang akan menggantikan peran-peran kita di masa mendatang. Anak harus mendapat tempat utama dalam diri setiap orang dewasa untuk diasuh, diasah, dan diasih dengan baik, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mandiri, berkarakter dan mampu memperjuangkan hidupannya di masa mendatang. Setiap orang dewasa harus berpikir, bahwa mereka pernah berada pada fase anak dengan sifat kekanak-kanakan pada beberapa tahun silam. Karena itu memperlakukan anak dengan penuh cinta dan kasih sayang, perhatian dan melindungi adalah bentuk perwujudan rasa syukur karena mereka (orang dewasa) telah melewati fase itu meski rumit dan berliku-liku penuh penderitaan dan siksaan sekalipun. Jika kesadaran ini dapat tumbuh dan berkembang pada diri orang dewasa, harapannya berbagai tindakan kejahatan terhadap anak dapat dicegah. Setiap kita harus terpanggil untuk peduli pada dunia anak. Demikian pun dalam kehidupan sosial bertetangga, kita harus berani menegur bahkan melaporkan segala bentuk tindakan kejahatan terhadap anak termasuk kejahatan yang berbentuk neglect atau penelantaran ini. Masyarakat dan pemerintah harus mau terbuka dan bekerja sama dengan pihak kepolisian (aparat hukum) untuk terus proaktif, mencegah bahkan menikdak tegas sesuai hukum berlaku terhadap para pelaku tindak kejahatan terhadap anak dan bukannya bersikap melindungi atau menyembunyikan pelaku-pelaku yang mungkin saja akan mengulang perilakunya di waktu lain, di tempat lain, dengan korban anak yang lain pula. Semua kita perlu bekerja sama untuk memperkuat sistem jejaring sosial yang terdiri dari masyarakat, pendidik, pemerintah dan swasta, LSM, serta aparat penegak hukum untuk dapat mencegah dan menindak pelaku kejahatan terhadap anak. Model sistem pembinaan secara simultan harus terus dilakukan. Bahkan lebih jauh, dukungan terhadap kerja pihak kepolisian harus terus mengalir dengan cara melaporkan suatu tindakan kejahatan terhadap anak yang terjadi di lingkungan terdekat dengan maksud memberi efek jera terhadap pelaku dan juga orang lain yang berpotensi sebagai pelaku tindak kejahatan terhadap anak dikemudian hari.