The Big Data

Minggu, 01 Januari 2017 12:28 Superadmin Dibaca 184x
The Big Data
SHARE THIS:

Selamat Tinggal Teknologi Informasi, Selamat Datang Teknologi Data

Tahukah Anda, 47% penjualan di Amazon.com — toko paling besar di planet ini — berasal dari penjualan item yang ditampilkan pada bagian Recommended Product. Fitur ini terletak di bagian bawah deskripsi produk yang sedang kita lihat. Ia berbentuk barisan produk-produk yang direkomendasikan oleh Amazon kepada kita. Tanpa fitur ini Amazon tidak sebesar seperti yang kita kenal sekarang. Fitur Recommended Product terdengar simpel bagi kita, terutama para pengembang web. Seorang siswa SMP saat ini sudah bisa membuat website. CMS (seperti WordPress, Joomla, Drupal, Magento dll) dan template, termasuk untuk ecommerce tersebar dimana-mana. Di dalamnya pun sudah ada fitur Recommended Product. Template yang nyaris seperti Amazon juga sudah banyak. Tinggal pasang, jalankan. Sesederhana itu?  Apakah kalau kita bikin toko online dengan fitur Recommended Product maka kita bisa menyontek kesuksesan Amazon? Tidak.Yang berada di belakang fitur Amazon adalah sebuah dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) yang super kompleks. Ia membaca perilaku kita selama berada di dalam toko yang ditunjukkan lewat klik dan di bagian mana kita banyak berfokus (heat map). Data ini disinkronkan dengan data profile kita, lokasi, kegemaran, pekerjaan, pendapatan, perilaku media sosial, dll. AI ini tak hanya mencoba memahami siapa kita, tapi juga (jutaan) pembeli lain yang punya perilaku atau profil mirip kita. Data-data ini diolah dan disinkronkan. Recommended Productlearning machineOutputRecommended ProductI have, you don’t have. DT adalah mesin yang dibuat untuk memahami manusia. Ia menstimulasi produktivitas manusia dan melayani banyak orang. DT membuat robot berperilaku seperti manusia. DT adalah sesuatu yang; You have, I don’t have MEMAHAMI BIG DATA Sering kita dengar sebutan Big Data dan orang-orang mengatakan ia sangat penting. Saya akan coba bantu Anda memahaminya. Rata-rata komputer personal di tahun 1980-an hanya bisa memproses data dalam bentuk sangat sederhana: teks, angka, gambar dan string (simbol). Ia juga stand-alone atau berdiri sendiri. Untuk memindahkan data ke komputer lain dilakukan lewat floppy disk. Di tahun 1990-an, data yang bisa diproses makin banyak: audio dan video. Data sudah bisa dipertukarkan dalam sebuah jaringan yang terdiri dari beberapa komputer. Kemudian kita kenal internet. Pertukaran data menjadi masif dari semua pengguna komputer di seluruh dunia. Revolusi komputasi di tahun 2000-an adalah ketika komputer makin kecil sekaligus makin cepat memproses data. Kita kenal dengan nama gawai atau gadget: smart phone, tablet, wearable device, iPod, dll. Semuanya terhubung ke internet dimana data saling dipertukarkan. Komputer tak lagi digunakan manusia untuk bekerja seperti tahun 80-90-an. Ia jadi perangkat kebutuhan sehari-hari untuk komunikasi, hiburan, kesehatan, informasi dan gaya hidup. Orang saat ini terhubung ke internet bukan lagi hanya untuk mengakses data dari penyedia data di masa lalu seperti membaca situs berita. Tapi semua orang menciptakan data dalam bentuk update di media sosial, blogwiki,wearable device. Pada tulisan saya berjudul Mata Uang Baru Itu Bernama Data telah disampaikan bahwa ponsel kita lebih kenal siapa diri kita dibanding diri kita sendiri. Setiap hari, seluruh perangkat komputasi yang digunakan manusia menciptakan 2,5 quintiliun byte data, atau 2,5 x 10 pangkat 18, atau 2,5 triliun triliun. Dan tahukah Anda, dari seluruh data komputasi yang tersimpan sejak komputer ditemukan hingga hari ini, 90%-nya adalah data yang diciptakan 2 tahun belakangan. Bila setiap hari ada 2,5 quintiliun byte data yang ditransaksikan manusia lewat mesin. Data-data ini tak hanya raksasa, tapi juga terpisah-pisah dan tak terstruktur. Akan digunakan untuk apa data ini? Apakah hanya jadi ‘sampah’ di mesin penyimpan? Inilah perbedaan besar antara IT dan DT. IT adalah ketika kita menciptakan teknologi yang bisa menciptakan, merekam, mentransaksikan data dan kemudian disimpan dalan database. DT adalah ketika kita menciptakan teknologi yang mengolah data-data tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita. Tanpa DT, 2,5 quintiliun byte data itu cuma sekedar angka yang tak ada artinya. DATA BAGI KEMASLAHATAN MANUSIA Bagi warga kota besar seperti Jakarta, aplikasi kondisi jalan raya seperti Google Map atau Waze sangat penting untuk melihat kondisi kemacetan. Data trafik jalan yang kita lihat di Google Map adalah data geospacial yang dipertukarkan oleh para pengguna Map di berada lokasi tersebut. Tanpa DT, kita tak akan bisa melihat jalan di Map berwarna merah, kuning atau oranye. Pengguna aplikasi Gojek bisa melihat berapa banyak driver yang ada di sekitar lokasi mereka, atau sudah sampai di mana driver pesanannya berada. Berkat DT, lewat Twitter kita bisa membaca ketertarikan orang banyak di sebuah lokasi hanya dengan memasukkan kata kunci dan pilihan lokasi. Tanpa DT, Google dan Facebook tak akan berpenghasilan Rp 924 triliun dan Rp 175 triliun di tahun 2014 lalu. “Masa depan tidak digantungkan pada keahlian, kekuatan atau berapa banyak uang yang kita punya. Tapi pada pengetahuan dan kebijaksanaan,” kata Jack Ma, CEO dan pendiri Alibaba, toko ritel paling besar di dunia dan salah satu promotor DT di dunia. Pengetahuan lahir dari informasi. Dan informasi itu adalah 2,5 quintiliun byte data per hari. “IT membuat orang lain melayani kita. DT membuat kita melayani orang lain,” sambung Ma yang kini jadi salah satu penasehat dalam mega proyek pembangunan mega city DT di Guizhou yang ikut dikerjakan bersama Baidu, Tencent dan para raksasa teknologi Tiongkok lainnya. Altruisme atau perhatian kita terhadap kesejahteraan atau pemecahan masalah orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri adalah salah satu pondasi dasar DT. Ia harus berjalan di atas prinsip tolong-menolong. Squee contohnya. Aplikasi ‘jalan tikus’ buatan anak dalam negeri ini adalah pemenang Jakarta Urban Challange 2015. Squee membantu penggunanya menemukan rute jalan kaki yang lebih singkat, aman dan menarik. Bahkan bisa saling janjian bertemu. Tak hanya membantu pengguna, tapi menjadi salah satu solusi kemacetan Ibukota. Prinsip altruisme itu sadar atau tidak selalu kita lakukan. Dengan menggunakan Google Map atau Waze saat berkendara, data kita dimanfaatkan untuk membantu orang lain. Google atau Waze yang berada di tengah ‘hanya’ bertugas untuk memproses data kita tersebut agar berguna bagi orang lain. Betapa besar perubahan transportasi kita bila setiap kendaraan memiliki perangkat permanen geospacial ini. Di negara-negara maju, DT turut dipergunakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat lewat mesin agregator yang mengumpulkan data pasien dari seluruh rumah sakit, klinik, apotek, media sosial, forum, sampai wiki. Lewat data evidance based ini pemerintah dengan mudah memantau kondisi kesehatan masyarakat, perilaku, penyakit yang perlu diwaspadai, dll, yang itu semua membantu pemerintah mengambil keputusan secara cepat dan akurat. Bagi pelaku usaha, DT adalah kunci untuk memahami konsumen, melakuan improvement secara terukur dan menemukan peluang baru. Kata Jack Ma, era business to consumer atau B2C sudah selesai. B2C terjadi ketika produsen menciptakan sebuah produk yang mereka rasa cocok bagi konsumen. Kini apa yang diinginkan konsumen tak lagi ‘dirasa-rasa’, semuanya terkumpul dalam Big Data. Konsumen sebenarnya telah menyampaikan apa yang mereka inginkan lewat jutaan data yang mereka transaksikan lewat perangkat komputasi. Ini adalah era C2B atau consumer to business, SMART CITY ADALAH KOTA DT Bulan lalu saya bertemu dengan salah satu kepala dinas sebuah kabupaten yang gencar mengkampanyekan daerahnya sebagai smart city atau kota cerdas. Si pejabat berkonsultasi bagaimana cara terbaik menampilkan APBD di website, maksudnya supaya transparan kepada masyarakat. Saya jawab, apa susahnya kalau cuma itu tujuannya. Tinggal ketik, upload di website Pemda, selesai. “Yang sekarang dilakukan ya seperti itu, Mas. Tapi Bupati minta yang lebih canggih,” sambung si pejabat. Saya tidak paham apa yang dimaksud ‘canggih’ oleh mereka. Tapi saya kesampingkan dulu itu. Saya bertanya, apakah Bupati bersedia mata anggaran APBD sampai satuan tiga ditampilkan kepada masyarakat lewat website, bisa dikomentari semua orang, dan penggunaan tiap mata anggaran dilaporkan secara terbuka? “Wah, pasti nggak mau, Mas. Bisa ribut,” jawab si pejabat cepat. Ya sudah, tak ada yang bisa saya lakukan.Tidak sedikit kepala daerah di Indonesia yang mengartikan smart city sebagai kota yang canggih, terkomputerisasi, atau terotomatisasi. Yang sudah pakai e-gov, e-budgeting, e-proc dan e- e- lainnya itu. Padahal utamanya adalah persoalan menghadirkan kultur baru dalam meningkatkan mensejahterakan masyarakat, layanan publik, iklim usaha dan pelestarian lingkungan hidup. Salah satu perangkat terpentingnya memang teknologi. Tapi teknologi itu tak ada gunanya bila ia hanya jadi perangkat ‘canggih’ yang berdiri di atas kultur lama. Soal transparansi misalnya. Smart city bagi mayoritas kepala daerah baru sebatas proyek bikin website dan software, pengadaan komputer dan jaringan, bahkan bikin smart citylive streaming yang tidak ada penontonnya itu. Transparansi adalah salah satu pondasi terpenting lain dalam DT selain altruisme. ‘Canggih’ adalah ketika semua data pemerintahan berupa anggaran, proyek, KPI dll itu terkomputerisasi, online dan terintegrasi. Ia jadi ‘pintar’ atau ‘smart’ ketika data-data tersebut dibuka, ditransaksikan dan interaksikan kepada publik dan seluruh pemangku kepentingan. Hasil transaksi data dan interaksi publik itu kemudian dipergunakan pemerintah untuk membuat keputusan. Smart city bukan ‘kota komputer’ atau ‘kota otomatis’. Ia adalah kota dimana peningkatan kesejahteraan, kualitas hidup, layanan publik, kerjasama dan kepercayaan ditempuh lewat pengelolaan data yang didapat melalui teknologi. Salah satu contoh pengelolaan DT oleh pemerintah yang telah di Indonesia sepengamatan saya adalah Kota Bandung lewat BCC). BCC bukan hanya ‘bioskop’ dengan banyak layar. Bukan juga cuma pos pengamatan ratusan CCTV yang tersebar di seluruh bandung. Lewat on-track Bandung Command Center (video ini Anda bisa tahu bahwa BCC terintegrasi dengan seluruh dinas, kepolisian, mobile app kepanikan, laporan anggaran, progres proyek, percakapan media sosial, sampai penerangan jalan. Dari DT yang diproses lewat BCC, para staf Ridwan Kamil, Walikota Bandung, bisa mengumpulkan data serta informasi secara cepat langsung dari masyarakat, untuk bertindak secara sigap dan akurat. BCC dengan model DT seperti ini tidak akan terjadi bila Ridwan Kamil tidak ingin menghadirkan kultur keterbukaan, melayani dan kerjasama kolaboratif dengan masyarakat Bandung. Penggunaan smart phone yang begitu masif dan konektivitas internet yang sudah sampai pelosok, big data itu sudah tersedia dimana-mana. Smart city adalah kota yang pemerintahnya mendayagunakan big data lewat DT dengan prinsip altruisme, keterbukaan dan tanggungjawab. KITA SAMA-SAMA MEMULAI Bila Anda berpikir untuk berperanserta dalam DT sebagai pelaku industri, pemerintahan atau organisasi non-profit, sekarang adalah masa terbaik. Dunia baru sama-sama memulai era DT dan tak ada satu pun pihak yang mengklaim dirinya sebagai pihak paling berkuasa atas DT atau punya kontrol penuh. Sumber data itu ialah semua manusia, oleh karenanya setiap pihak saling tergantung. Ingatlah bahwa DT adalah; you have, I don’t have.DT membuat kita makin memahami manusia dan menciptakan dunia yang lebih baik lewat pemahaman itu. Di masa mendatang, ada 4 bidang profesi yang memiliki permintaan tertinggi di dunia. Ia disebut STEM Education: science, technology, engineering, math. James Bacon, jurnalis bidang teknologi menulis: “Ibu, jangan biarkan anakmu menjadi pengacara. Programmer komputer dan insiyur akan hidup sejahtera di abad ke-21. Tapi bila kamu ingin anakmu jadi orang seperti Steve Jobs dan Bill Gates, sekolahkan mereka di bidang matematika yang memungkinkan mereka mempelajari analisa big data.” (*)

Penulis:

Hilman Fajrian

Digital Director, Social Media for Business Developer