BERDAMAI DENGAN ALAM

Artikel BERDAMAI DENGAN ALAM
Update terakhir Rabu, 20 Mei 2020 17:32

(Oleh: Valen Sofa)


Kalau ditanya kapan "wabah" ini berakhir?, jawaban saya, hanya Tuhan yang tahu kapan semua ini berakhir. Sungguh betapa sulitnya saya mencari jawaban kepada manusia yang selalu merasa superior terhadap kepemilikkan dunia tapi faktanya dijungkirbalikkan oleh kekuatan makhluk yang tak kasat mata. Makhluk proto atau kuno dengan satu untai materi genetik & hanya meminjam kehidupan lain untuk dia berkembang biak nyatanya selalu membuat seluruh generasi umat manusia linglung & ketakutan. 


Menekan Kelimpahan Virus (Viral Load)?

Adapun virus hanya melalui 3 fase kehidupan dalam inangnya, yaitu: 

- Transkripsi: menyalin materi genetik sel inangnya

- Replikasi: melakukan peng-copyan dengan memperbanyakan diri 

- Translasi: menghasilkan protein bagi dirinya sendiri


Menurut saya, kita dapat hidup berdamai dengan SARS-CoV-2 karena berharap dia punah akan menjadi hal yang sia-sia (cat. Keluarga Coronavirus ditemukan hampir di semua vertebrata (hewan bertulang belakang), mulai dari aves (burung), mamalia terbang seperti kelelawar, reptil seperti ular, hingga mamalia air seperti lumba-lumba). 


Kesimpulannya, tugas kita adalah untuk memerangi penyakit yang disebabkannya (COVID-19) dengan cara menekan kelimpahannya, artinya kita berupaya sedemikian mungkin mencegah agar diri kita & orang lain tidak terinfeksi. Karena kalau terinfeksi maka akan tercipta peluang untuk dia bereplikasi (memperbanyak diri). Ya, cara sederhana yang kita sudah sama-sama tahu adalah dengan intervensi non medis seperti hidup higienis dengan rajin cuci tangan, jaga jarak fisik, dan memakai masker. Tidak lupa juga menjaga kesehatan melalui boost imunitas tubuh dengan asupan makanan bergizi. 


Sampai detik ini & seterusnya, hal tersebut mungkin akan menjadi pelajaran sejarah yang berharga bagi generasi mendatang. Obat-obatan & vaksin mungkin akan hadir, namun efikasi & efektivitasnya akan selalu teruji & berpeluang menurun kemanjurannya, sebagaimana virus tersebut dipastikan akan terus ber-evolusi sehingga mewajibkan generasi mendatang untuk terus memodifikasi terapi obat-obatan & vaksin yang sudah ada untuk kebutuhan mereka nanti. 


Rekonsiliasi Dengan Alam? 

Pada akhirnya, yang patut untuk kita selalu ingat & lakukan adalah agar senantiasa menghargai eksistensi segala makhluk ciptaan Tuhan di alam ini. Biarkan mereka hidup damai di habitat liar mereka & kita hidup damai di habitat kita. Keserakahan duniawi hanya akan mendatangkan malapetaka. Saya hanya membayangkan betapa hancurnya dunia di tahun 2019, ketika kebakaran hebat terjadi di paru-paru dunia, Hutan Hujan Amazon & Hutan Sabana Australia, ketika kita bereuforia dengan pesta kembang api pada penutupan malam tahun baru  sementara polusi udara menyiksa banyak spesies burung & kelelawar, ketika kita menyiksa & memperjual belikan satwa-satwa liar dengan kejam. Kosmos tidak tinggal diam, ia pasti mengembalikan tatanan keseimbangannya yang terganggu dengan mengusir kita secara temporal. Sebuah suksesi alamiah. 


Leluhur kita Adam sudah merasakan terlebih dahulu, tatkala buah kesombongan & keserakahan diri harus membuat manusia pertama terusir dari Taman Eden, konsep alam lestari yang pertama kali disediakan bagi kehidupan manusia. Namun Tuhan memang Maha Murah, Dia selalu berpegang teguh pada janji-Nya bahwa manusia, ciptaan yang secitra dengan dirinya harus selalu hidup, kehidupan yang memang menjadi pra lambang Roh Kasih, Roh yang pertama kali melayang-layang di awal penciptaan semesta. 


Sekian & Terima Kasih 


(Foto: The Creation Of Adam, Masterpiece Karya Michelangelo (Seniman Besar Era Rennaisans), di Kapela Sistine, Vatikan)